Gus Dur: "SALAHKAH BILA DIPRIBUMIKAN?"
Mengapa harus menggunakan kata shalat kalau kata sembahyang juga tidak kalah benarnya? Dahulu tuan guru atau kiai, sekarang harus ustadz dan syaikh, baru terasa berwibawa. Bukankah ini pertanda Islam tercerabut dari lokalitas yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi?
Gus Dur mengajak kita untuk kembali pada kesadaran identitas lokal. Islam yang tidak mencabut budaya dari umatnya. Gus Dur menyebutnya dengan pribumisasi Islam. Yang dipribumikan adalah manifestasi kehidupan Islam saja, bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Salahkah kalau islam dipribumikan sebagai manifestasi kehidupan?
Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya. Bukan ajarannya, melainkan penampilan kesejarahan itu sendiri, yang meliputi kelembagaannya. Mula-mula Nabi Muhammad yang membawa risalah, memipin masyarakat muslim pertama. Kemudian empat penganti (khulafatur rasyidin) meneruskan kepemimpinannya secara berturut-turut. Pergolakannya hebat berakhir berujung pada sistem pemerintahan monarki.begitu banyak perkembangan terjadi, sekarang ada sekian kerajaan mengajukan klaim sebagai negara Islam.
Hukum agama masa awal islam kemudian berkembang menjadi fiqh, yang kemudian, keberagaman pandangan fiqh tersebut disistematisasi menjadi buah madzhab fiqh dengan metodologi dan pemikiran hukum tersendiri.
Fenomena penyeragaman pandangan yang kian menguat melalui formalisasi Islam kini tampil dengan massif. Wacana yang ditawarkan menggeser pandangan kita terutama perihal identitas kita sebagai sebuah bangsa.
Masjid beratap genteng, yang sarat dengan simbolisasi lokal, kini dituntut untuk dikubahkan. Ikat kepala lokal harus mengalah pada sorban merah putih model yasser arafat. Tidakkah kehidupan kaum muslimin tercerabut dari akar-akar budaya lokalnya? Di negeri kita, sayup-sayup suara terdengar untuk menghadapkan Islam dengan pancasila secara konfrontatif.
(Dikutip dari: Tuhan tidak perlu dibela, hal 105-108)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar